
Pecinta film Indonesia tentu sudah tak asing dengan sosok sutradara ternama yang satu ini yakni Joko Anwar. Sutradara ternama yang telah berhasil menciptakan berbagai karya fenomenal dan viral di pasaran seperti Pengabdi Setan (2017), Perempuan Tanah Jahanam (2019) yang berhasil memperoleh enam piala Citra dan masih banyak lagi.
Siapa sangka dibalik kesuksesan yang diraih oleh Joko Anwar, terdapat perjalanan panjang yang harus dilalui untuk mengantarkan Joko Anwar dari dunia jurnalistik ke puncak kejayaannya di industri film tanah air.
Profil Joko Anwar
Joko Anwar adalah seorang penulis skenario film dan sutradara ternama yang sangat dikenal di Indonesia. Beliau lahir di Medan pada tanggal 3 Januari 1976. Saat ini, usianya genap di 48 tahun dan masih aktif dalam menyumbangkan hasil karyanya di perfilman Indonesia.
Karya-karya film yang dihasilkan sering kali menuai pujian dari para kritikus. Bahkan, hampir semua karyanya masuk ke dalam nominasi di berbagai festival film bergengsi.
Adapun riwayat pendidikan dari seorang penulis dan sutradara dengan karya cemerlang antara lain adalah:
- SMA Negeri 1 Medan, lulus tahun 1993.
- Wheeling Park High School, West Virginia, US tahun 1994.
- Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan teknik penerbangan dan lulus pada tahun 1999.
Salah satu fakta yang cukup menarik adalah Joko Anwar ternyata memeluk agama Islam meskipun sempat beberapa waktu lalu menggegerkan publik karena perannya sebagai Pastor yang memimpin misa di gereja dalam film “Ave Maryam”. Bahkan, beberapa media mengabarkan jika dirinya pindah agama. Namun, hingga saat ini Joko Anwar tetap teguh dengan keyakinan yang dianutnya yaitu memeluk agama Islam.
Kehidupan Masa Kecil Joko Anwar
Sebagai seseorang yang lahir dan besar di pinggiran kota Medan, Joko Anwar hidup di lingkungan yang keras dan juga kurang nyaman. Apalagi, pada saat itu, kriminalitas dan premanisme juga terbilang cukup tinggi.
Semasa kecil, Joko Anwar rupanya memiliki pengalaman yang cukup pahit karena dirinya pernah menjadi korban perundungan. Meskipun tidak menyebutkan secara jelas alasan perundungan tersebut namun hal ini membuat dirinya menjadi jauh dari lingkungan dan ia pun lebih banyak menghabiskan waktu di bioskop.
Di usia 5 tahun, Joko Anwar selalu mengumpulkan uang untuk membeli tiket bioskop. Namun, jika tidak memiliki uang biasanya dirinya hanya menonton film dari lubang ventilasi bioskop. Bioskop tersebut bernama Remaja Teater.
Film pertama kali yang ditonton oleh Joko Anwar bergenre horor yaitu Kungfu. Selain itu, ada beberapa judul film yang menjadi favoritnya seperti Eight Diagram Pole Fighter (1984), Shaolin vs Ninja, 39 Chamber Of Shaolin (1978), Strangers of Atlantis hingga film Indonesia terpopuler Jaka Sembung.
Selama mengejar pendidikan, Joko Anwar termasuk siswa yang berprestasi bahkan mulai dari sekolah SD hingga SMP, beliau mampu meraih 17 piala dari berbagai lomba. Mulai dari lomba cerdas cermat, pidato hingga baris berbaris. Bahkan pada saat SMA, Joko Anwar terpilih sebagai salah satu pelajar yang akan dikirim ke Amerika dalam rangka pertukaran pelajar yang membuktikan jika ia merupakan sosok pelajar teladan dan berprestasi.
Baca juga : 17 Kisah Inspiratif Perjuangan Para Selebriti
Perjalanan Karir Joko Anwar
Joko Anwar mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis dan kritikus film di The Jakarta Post. Kecintaannya terhadap film yang telah tumbuh sejak kecil dan dipadukan dengan ketajaman nya dalam menganalisis karya seni pada akhirnya mengantarkannya pada dunia perfilman yang membesarkan namanya.
Awal memasuki dunia perfilman, Joko Anwar menggeluti berbagai peran industri film mulai dari penulis skenario, aktor hingga sutradara. Bahkan saat ini karyanya banyak dikenal luas di masyarakat dan prestasi yang diperoleh membuatnya menjadi sosok yang dihormati di dunia perfilman Indonesia.
1. Tahun 2003
Langkah awal beliau terjun di dunia perfilman dimulai dari menulis skenario film yang berjudul “Arisan” pada tahun 2003 karya dari Nia Dinata, seorang produser dan sutradara ternama. Joko Anwar berhasil menarik perhatian Nia Dinata dan mengajaknya dalam proyek film “Arisan” yang tengah digarapnya sebagai penulis skenario.
Film tersebut akhirnya berhasil meraih sukses besar, tidak hanya secara komersial saja melainkan juga secara kritis. Bahkan, film “Arisan” ini mampu memenangkan beberapa penghargaan film bergengsi termasuk film terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2004 dan “Best Movie” di MTV Indonesia Movie Award pada tahun yang sama.
2. Tahun 2005
Debut pertamanya sebagai sutradara film ditandai dengan rilisnya film berjudul “Janji Joni” pada tahun 2005 lalu. Film ini termasuk film dengan genre komedi romantis dan cukup menuai pujian yang mana skenario cerita pada film tersebut ditulis pada tahun 1998, tepatnya saat dirinya masih kuliah.
Film “Janji Joni” ini dibintangi oleh aktor kenamaan ‘Nicholas Saputra’ dan Mariana Renata yang berhasil masuk salah satu Box Office terbesar pada tahun itu. Film ini juga berhasil meraih penghargaan di ajang MTV Indonesia Movie Award dengan kategori “Best Movie” pada tahun 2005.
Selain itu, film karya Joko Anwar “Janji Joni” ini juga masuk ke dalam festival film internasional bergengsi seperti Sidney Film Festival dan Festival Film Internasional Busan. Bahkan, SET Foundation yang saat itu dipimpin oleh Garin Nugroho memberikan penghargaan secara khusus pada film tersebut untuk kategori “cara bercerita yang inovatif”.
3. Tahun 2007
Pada tahun 2007, Joko Anwar berhasil menciptakan karya film noir pertama di Indonesia yang berjudul “Kala”. Ia menulis dan menyutradarai sendiri film tersebut dan berhasil memperoleh respons yang cukup positif dari para penikmat film.
Film “Kala” berhasil memperoleh pujian dari kritikus internasional dan masuk ke dalam lebih dari 30 seleksi festival film internasional. Film ini juga berhasil memenangkan Jury Prize di New York Asian Film Festival pada tahun 2008.
Tak hanya menulis dan menyutradarai untuk beberapa karya filmnya sendiri, Joko Anwar kerap kali menulis skenario film untuk sutradara lainnya. Film “Quickie Express” karya Dimas Djayadiningrat dan “Jakarta Undercover” karya Lance, skenarionya ditulis oleh Joko Anwar. Kedua film tersebut sukses secara komersial dan berhasil memenangkan kategori “Best Film” pada ajang Jakarta International Film Festival pada tahun 2008 lalu.
Selain itu, Joko Anwar juga menulis skenario dari film “Fiksi” yang disutradarai oleh Mouly Surya”. Dari film tersebut, berhasil memperoleh penghargaan di Festival Film Indonesia pada tahun 2008 dalam kategori Film Terbaik dan Skenario Terbaik.
Baca juga : Tantangan Karir Selebriti Hollywood hingga Raih Kesuksesan
4. Tahun 2009
Film selanjutnya yang disutradarai oleh Joko Anwar dan sukses di pasaran film adalah “Pintu Terlarang”. Film ini berhasil di rilis pada tahun 2009 dan mendapatkan pujian dari kritikus internasional sebagai film thriller psikologis.
Dari karya film yang dihasilkan, Joko Anwar memperoleh sebutan cerdas sekaligus sakit dari Richard Corliss pada majalah TIME. Bahkan mengatakan bahwa film “Pintu Terlarang” ini dapat menjadi kartu panggilan bagi Joko Anwar sebagai sutradara kelas dunia.
Film “Pintu Terlarang” juga masuk ke dalam beberapa ajang festival film internasional bergengsi seperti International Festival Film Rotterdam dan New York Asian Film Festival. Tak heran Maggie Lee dari The Hollywood Reporter memuji film tersebut dengan menyebutkan Alfred Hitchock dan Pedro Almodovar bangga atas karyanya.
Film ini juga berhasil memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival pada tahun 2009.
5. Tahun 2015
Joko Anwar kembali berhasil menyutradarai film bergenre drama thriller dengan judul “A Copy of My Mind”. Tak hanya mengikuti festival perfilman di Indonesia. Film ini juga pernah diikutsertakan dalam Venice Film Festival dan Toronto International Film Festival.
Film “A Copy of My Mind” ini berhasil memenangkan 3 piala citra dari 7 nominasi Festival Film Indonesia pada tahun 2015. Tiga diantara piala tersebut termasuk kategori sutradara terbaik.
6. Tahun 2017
Di tahun 2017 Joko Anwar mencoba merilis kembali film “Pengabdi Setan” yang aslinya rilis pada tahun 1980 silam. Keberhasilan film ini kerap kali disebut sebagai barometer atau standar baru dalam dunia perfilman di Indonesia oleh para kritikus dan menjadi film paling laris di tahun tersebut.
Film “Pengabdi Setan” mampu meraih 7 penghargaan dari 13 nominasi yang diikutinya pada Festival Film Indonesia tahun 2017. Kesuksesan film ini membuat nama Joko Anwar semakin dikenal dan memperoleh karir yang cemerlang sebagai sutradara film kenamaan tanah air.
7. Tahun 2019
Pada tahun 2019, Joko Anwar merilis film terbarunya yaitu pahlawan super lokal “Gundala”. Film ini diambil dari karakter pahlawan super Indonesia karya Harya Suraminata (Hasmi) tahun 1969. Tak hanya berhasil mencetak film Box Office terpopuler saja, film ini juga berhasil masuk ke nominasi ajang festival film di Indonesia.
Kiprah Joko Anwar di dunia perfilman sudah tidak diragukan lagi. Selain banyak mengeluarkan karya film yang selalu meledak di pasaran, Joko Anwar pun banyak membuat karya pada film pendek dan serial web.
Diperankan oleh aktor dan aktris berbakat membuat setiap hasil produksi filmnya selalu laris di pasaran. Beberapa judul film pendek ciptaan dari Joko Anwar antara lain adalah Joni Be Brave (2003), Durable Love (2012), The New Found (2013), Jenny (2016), Jalanin Aja (2017) dan Kelompok Tidak Belajar (2020).
Sedangkan untuk serial web yang berhasil diciptakan Joko Anwar adalah Tira (2023-2024) dan Nightmares And Daydreams (2024).
Karya-karya yang dihasilkan oleh seorang Joko Anwar, bukan hanya populer di kalangan penikmat film melainkan juga mendapatkan apresiasi di kancah internasional. Beliau juga dikenal sebagai sutradara dengan gaya yang kuat dan narasi kompleks.
Pasalnya, ia sering kali mengeksplor lebih mendalam mengenai tema-tema sosial dan psikologis. Dalam mendorong batas-batas sinema di Indonesia, Joko Anwar menggunakan pendekatan inovatif dan kreatif sehingga mampu memberikan inspirasi pada generasi baru para pembuat film.
Melalui profil dan kisah hidup seorang Joko Anwar ini, diharapkan mampu menjadi pengetahuan baru dan tentunya bisa menginspirasi generasi muda untuk menciptakan berbagai karya spektakuler dalam industri film yang lebih bagus lagi. Mari kita tunggu karya terbaru dari seniman berbakat yang sudah dikenal di kancah internasional ini.
